Minggu, 16 Desember 2012

Sejarah Ilmu Pendidikan




Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka itu dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakatnya.
            Menurut keyakinan kita, sejarah pembentukan masyarakat dimulai dari keluarga Adam dan Hawa sebagai unit terkecil dari masyarakat besar umat manusia di muka bumi. Dalam keluarga Adam itulah telah dimulai proses kependidikan umat manusia, meskipun dalam ruang lingkup terbatas sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya.
            Dasar minimal dari usaha mempertahankan hidup manusia terletak pada orientasi manusia ke arah 3 (tiga) hubungan, yaitu :
  1. Hubungan manusia dengan Yang Maha Pencipta yaitu Tuhan sekalian alam.
  2. Hubungan dengan sesama manusia. Dalam keluarga Adam, hubungan tersebut terbatas pada hubungan antar anggota keluarga.
  3. Hubungan dengan alam sekitar yang terdiri dari berbagai unsur kehidupan, seperti tumbuh-tumbuhan, binatang dan kekuatan alamiah yang ada.
Dari prinsip hubungan inilah, kemudian manusia mengembangkan proses pertumbuhan kebudayaannya. Proses inilah yang mendorong manusia ke arah kemajuan hidup sejalan dengan tuntutan yang semakin meningkat.
Manusia sebagai makhluk Tuhan, telah dikaruniai Allah kemampuan-kemampuan dasar yang bersifat rohaniah dan jasmaniah, agar dengannya manusia mampu mempertahankan hidup serta memajukan kesejahteraannya.
Kemampuan dasar manusia tersebut dalam sepanjang sejarah pertumbuhannya merupakan modal dasar untuk mengembangkan kehidupannya di segala bidang.
Sarana utama yang dibutuhkan untuk pengembangan kehidupan manusia tidak lain adalah pendidikan, dalam dimensi yang setara dengan tingkat daya cipta, daya rasa dan daya karsa masyarakat beserta anggota-anggotanya.
Oleh karena antara manusia dengan tuntutan hidupnya saling berpacu berkat dorongan dari ketiga daya tersebut, maka pendidikan menjadi semakin penting. Bahkan boleh dikata, pendidikan merupakan kunci dari segala bentuk kemajuan hidup umat manusia sepanjang sejarah.
Pendidikan berkembang dari yang sederhana (primitive), yang berlangsung dalam zaman dimana manusia masih berada dalam ruang lingkup kehidupan yang serba sederhana. Tujuan-tujuannya pun amat terbatas pada hal-hal yang bersifat survival (pertahanan hidup terhadap ancaman alam sekitar). Yaitu keterampilan membuat alat-alat untuk mencari dan memproduksi bahan-bahan kebutuhan hidup, beserta pemeliharaannya. Kemudian diciptakan pula alat-alat untuk mengolah hasil-hasil yang diperoleh menjadi bahan yang sesuai dengan kebutuhan.
Akan tetapi ketika manusia telah dapat membentuk masyarakat yang semakin berbudaya dengan tuntutan hidup yang semakin tinggi, pendidikan ditujukan bukan hanya pada pembinaan keterampilan, melainkan kepada pengembangan kemampuan-kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep-konsep berpikir ilmiah.
Kemampuan konsepsional demikian berpusat pada pengembangan kecerdasan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, faktor daya pikir manusia menjadi penggerak terhadap daya-daya lainnya untuk menciptakan peradaban dan kebudayaan yang semakin maju pula. Maka dalam proses perkembangan sejarah pendidikan, masyarakat manusia menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang bersifat dinamis, oleh karena antara pendidikan dengan masyarakat umat manusia terjadi proses saling pengaruh mempengaruhi (interaktif). Di satu pihak masyarakat dengan cita-citanya, mendorong terwujudnya pendidikan sebagai sarana untuk merealisasikan cita-cita, sedang di lain pihak pendidikan itu mencambuk masyarakatnya untuk bercita-cita lebih maju lagi. Bahkan pendidikan dalam suatu waktu tertentu menjadi pendobrak terhadap keterbelakangan cita-cita masyarakatnya.1)
Dengan demikian antara pendidikan dan masyarakat terjadi perpacuan (kompetisi) untuk maju. Itulah salah satu ciri dari masyarakat yang dinamis di mana pendidikan menjadi tumpuan kemajuan perkembangan hidupnya.
Khususnya masyarakat Islam yang berkembang sejak zaman Nabi Muhammad Saw. Melaksanakan missi  sucinya menyebarkan agamanya, pendidikan juga merupakan kunci kemajuan. Sumber-sumber pokok ajaran Islam yang berupa Al-Qur’an dan Al-Hadist, banyak mendorong pemeluknya untuk menciptakan pola kemajuan hidup yang dapat mensejahterakan pribadi dalam masyarakat, sehingga dengan kesejahtaraan yang berhasil diciptakannya, manusia secara individual dan sosial, mampu meningkatkan derajat dan martabatnya, baik bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat nanti. Derajat dan martabatnya sebagai khalifah di muka bumi dapat diraih berkat usaha pendidikan yang bercorak Islami itu.
Sejalan dengan missi agama Islam yang diturunkan Allah Swt. Kepada manusia, proses kependidikan Islam berusaha merealisasikan missi itu dalam tiap pribadi manusia yaitu ”menjadikan manusia sejahtera dan bahagia dalam cita Islam”.
Cita-cita Islam mencerminkan nilai-nilai normatif dari Tuhan yang bersifat abadi dan absolut dalam pengamalannya tidak mengikuti selera nafsu dan budaya manusia yang berubah-ubah menurut tempat dan waktu.
Nilai-nilai Islam yang demikian itulah yang ditumbuh kembangkan dalam diri pribadi manusia melalui proses transpormasi kependidikan. Proses kependidikan yang mentranspormasikan (merubah) nilai tersebut selalu berorientasi kepada kekuasaan Allah Swt, dan Iradah-nya yang menentukan keberhasilannya. Kemajuan peradaban manusia yang melingkupi kehidupannya, bagi manusia yang berkepribadian Islam, hasil proses kependidikan Islam akan tetap merasa berada dalam lingkaran hubungan vertikal dengan Tuhannya, dan hubungan horizontal dengan masyarakat.
Adapun metode dasar untuk mendidik manusia agar mampu mengembangkan diri dalam kehidupan yang semakin luas dan kompleks, terutama dalam memahami, menghayati dan mengamalkan missi agama Islam, berpangkal pada kemampuan membaca dan menulis dengan kalam, tidak saja sekedar membaca dan tulisan atau menuliskan hasil pengamatan, akan tetapi juga membaca, memahami, dan menjelaskan gejala alamiah yang diciptakan Tuhan dalam alam semesta ini.
Agar mampu membaca dengan tepat dan mendalam. Allah Swt, memberikan kepada manusia suatu kemampuan kecerdasan berpikir dan menganalisa gejala alam. Untuk itu Allah Swt, senantiasa mendorong manusia agar memfungsikan akal pikirannya untuk menganalisa tanda-tanda kekuasaan-nya yang nampak dalam alam semesta ciptaan-nya. Tidak kurang dari 300 kali Allah Swt, menyebutkan motivasi berpikir dalam kitab Al-Qur’an.
Kitab-kitab-nya (gaya bahasa) dan Al-Qur’an pun hanya ditujukan kepada manusia, bukan kepada binatang atau tumbuh-tumbuhan serta benda-benda mati.
Keutamaan makhluk manusia yang lebih dari makhluk lainnya adalah terletak pada kemampuan akal kecerdasannya. Oleh karena itu, kemampuan membaca dan menulis tersebut adalah yang pertama-tama diperintahkan oleh Allah Swt, kepada utusannya, Muhammad Rasulullah Saw, dalam wahyu pertamanya yang diturunkan kepda beliau, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1 s.d 5. dan setelah dapat membaca dan menulis, manusia baru melangkah ke tingkat proses mengetahui hal-hal yang baru yang belum diketahui, sebagaimana Allah Swt, mengajarkan hal-hal itu kepadanya.

عَلَّمَ اْلاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ       
Dengan mengetahui segala sesuatu yang terhampar di alam semesta dan yang berada di balik alam semesta, berulah manusia dapat beriman melalui kesadarannya. Jadi, dengan melalui proses membaca dan menulis dan mengatahui, kemudian beriman, manusia baru dapat menduduki tingkat atau derajat yang tinggi, sebagaimana dinyatakan Allah Swt dalam surat Al-Mujadalah ayat 11.

يَرْ فَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوُا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ اُوْتُواالعِلْمَ دَرَجَا تٍ (المجا د لة ١١)
Pengetahuan itulah yang mengantarkan manusia yang selalu berpikir dan menganalisa gejala alam ke arah ”berilmu pengetahuan” yang dilandasi dengan dzikir kepada Allah Swt. Menghasilkan berbagai jenis perangkat alat-alat teknologi untuk memajukan kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Metode pendidikan Islam yang mendorong dan mengaktualisasikan serta memfungsikan segenap kemampuan kejiwaan yang naluriah, seperti akal pikiran, kemauan, perasaan manusia yang ditunjang dengan kemampuan jasmaniahnya, manusia akan berhasil dididik dan diajar sehingga menjadi manusia muslim paripurna, yaitu manusia yang beriman, berilmu pengetahuan dan beramal sholeh sesuai dengan tuntunan ajaran Islam seperti difirmankan Allah SWT. dalam Surat Ali-Imran Ayat : 190-191.
اِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيَاتٍ ِلاُولِى اْلاَلْبَابِ٭ اَلَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَقُعُوْدًا وَعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى خَلْقِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلاً سُبْحَا نَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 (ال عمران ١٩٠ – ١٩١)
            Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali-Imran, 190 – 191).
Dengan demikian jelaslah, bahwa Islam mengajarkan kepada manusia untuk melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya, berdasarkan pandangan bahwa anak sebagai makhluk yang sedang bertumbuh dan berkembang ke arah kedewasaannya, memiliki kemampuan dasar yang dinamis dan responsif terhadap pengaruh dari luar dirinya, sehingga dalam proses mendidik tidak perlu terjadi pemaksaan-pemaksaan (otoriter) karena perbuatan demikian berlawanan dengan fitrah Allah Swt. Yaitu kemampuan dasar berkembang yang telah dianugrahkan Allah kepada tiap diri manusia.
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, anak harus dipandang sebagai hamba Allah yang paling mulia dengan kemampuan dan bakatnya dapat berkembang secara interaktif atau dialektis (saling pengaruh-mempengaruhi) antara kemampuan dasarnya dengan pengaruh pendidikan (ajar). Dengan demikian, pendidikan Islam menempatkan anak didik tidak saja menjadi objek pendidikan, melainkan juga memandangnya sebagai subjek didik.
Dalam hubungan dengan proses tersebut fungsi pendidikan Islam adalah sebagai pembimbing dan pengarah perkembangan dan pertumbuhan anak didik dengan sikap dan pandangan bahwa anak didik adalah hamba Allah yang diberi anugerah berupa potensi dasar yang mengandung tendensi untuk berkembang atau bertumbuh secara interaktif atau dialektis dengan pengaruh lingkungan.
Atas dasar konsepsional dari pola pikir demikian itulah, maka pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang bersifat progressif menuju ke arah kemampuan optimal anak didik yang berlangsung di atas landasan nilai-nilai ajaran islam.
Dengan demikian, maka pendidikan Islam dalam prosesnya harus berlangsung secara kontekstual dengan nilai-nilai, karena Islam sebagai agama wahyu mengandung sistem nilai yang menjadi pedoman hidup umat manusia dalam segala bidang, termasuk bidang kependidikan. Dalam kehidupan umat manusia baik secara individual maupun sosial, selalu dipengaruhi oleh sistem nilai, baik nilai kultural maupun nilai keagamaan. Sistem nilai yang bersumber pada kultur (kebudayaan) bersifat relatif (bergantung pada) yang bersifat tidak tetap, sedang sistem nilai agama wahyu (Islam) bersifat absolut (mutlak) tidak berubah-ubah mengikuti selera budaya manusia.
Secara teoritis pendidikan Islam sebagai Ilmu atau disiplin ilmu adalah merupakan konsepsi kependidikan yang mengandung berbagai teori yang dikembangkan dari hipotesa-hipotesa atau wawasan yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an atau Al-Hadist, baik dilihat dari segi sistem, proses dan produk (hasil) yang diharapkan maupun dari segi missionair-nya (tugas pokoknya) untuk membudayakan umat manusia agar bahagia dan sejahtera dalam hidupnya. Dalam proses kependidikan Islam terdapat problema-problema yang komples (tidak sederhana), oleh karena melibatkan berbagai input instrumental (guru, metode, kurikulum, sarana) dan dari input environmental (kebudayaan, tradisi, mitos, kemajuan ilmu dan teknologi yang berkembang di lingkungan sekitar) yang harus dijadikan bahan-bahan perumusan kebijaksanaan operasional.
Untuk mengarahkan proses yang konsisten sesuai cita-cita pendidikan Islam, maka fungsi Ilmu Pendidikan Islam teoritis adalah sebagai penunjuk jalan bagi proses operasionalisasinya. Proses operasionalisasi ini lah yang akan menjadi umpan balik (feed back) yang mengkoreksi berbagai teori yang disusun dalam Ilmu Pendidikan Islam, misalnya tentang bagaimana cara mendidik keimanan kepada anak didik atau berbagai dampak negatif dari kemajuan IPTEK (Ilmu dan Teknologi) harus ditangkal melalui pendidikan Islam dan sebagainya.

Kamis, 13 Desember 2012

Fakultas Ilmu Pendidikan

Fakultas Ilmu Pendidikan

THE NEW RULES OF THE WORLD



Nama    : M Ahmad Sabil
Jurusan : MP  2012 B
NIM       : 121 714 204           
Tugas    : Sosio-Antropologi

THE NEW RULES OF THE WORLD

New Rulers of The World merupakan film dokumenter .film ini bercerita tentang globalisasi yang di desain agar menguntungkan negara-negara maju dengan tema utama adalah buruh yang diperbudak serta utang luar negeri. Pilgers menceritakan bahwa inilah era penguasa baru dunia , khususnya pengaruh bagi sebuah negara berkembang.
Globalisasi masuk ke indonesia pada Reziem Soeharto, globalisasi menimbulkan kesengsaraan bagi kaum lemah di berbagai negara berkembang seperti indonesia.
Soeharto lah yang patut bertanggung jawab atas semua ini, karena pada reziemnya Globalisasi bisa masuk ke indonesia dengan muda.
Pada saat itu pula investor-investor Asing dapat Masuk ke indonesia dengan izin Soeharto.investor investor Asing menjajah indonesia secara modern, mereka juga (investor asing) membuka lapangan pekerjaan yang menjadi Neraka bagi rakyat rakyat lemah di indonesia.
Film ini memaparkan kondisi buruh pabrik di Indonesia yang mengenaskan yang bekerja di perusahaan internasional seperti Adidas GAP Nike, dll, sedangkan disisi lain perusahaan Asin di negara-negara maju meraup keuntungan yang sangat besar dari perbudakan tersebut.
John Pilgers menjelaskan bagaimana utang luar negeri telah menjerat Indonesia menjadi negara penghutang (idealnya sepanjang masa) sejak rezim Soeharto. Untuk hal itu, Pilgers melakukan wawancara langsung dengan petinggi Perusahaan Besar dan Bank Dunia IMF dan World Bank Ia mempertanyakan alasan lembaga keuangan tersebut tetap memberikan punjaman kepada rezim yang jelas korup dan dengan mekanisme yang tidak transparan. Yang jelas dari kebijakan tersebut, World Bank dan negara-negara kreditor mengambil keuntungan yang besar dari mekanisme yang tidak transparan dan cacat hukum tersebut melalui program yang dikerjakan oleh perusahaan multinasional dari negara-negara asal masing-maisng. Jadi, meskipun WB dan negara kreditor memberi pinjaman 100%, namun sebenarnya sebagian besar uang tersebut digunakan untuk membuka lapangan pekerja negara kreditor dan hanya sekitar separuh uang pinjaman tersebut benar-benar masuk ke negara miskin tersebut.
Itulah fakta yang terjadi di Indonesia. Dan pada awal tahun 2000-an, terjadi gerakan jutaan manusia menentang globalisasi di berbagai penjuru dunia. Globalisasi yang didengung-dengungkan oleh Amerika dan negara kapitalis liberal bahwa akan membawa kemakmuran bagi umat manusia ternyata mengakibatkan jurang pemisah yang begitu besar antara si kaya dan si miskin.

Apakah Globalisasi sebuah cara yg tepat untuk berbagi pada kaum yang tertindas ataukah globalisasi hanyalah kedok penguasa saat ini yang menggunakan cara-cara lama yang dulunya dilakukan raja-raja dan sekarang diteruskan oleh (perusahaan)?
Lalu, bagaimana dengan utang luar negeri? Benarkah utang luar negeri yang diberikan dari lembaga dan negara asing kepada negara-negara yang kaya sumber daya alam seperti Indonesia memang secara absolut memberikan kemakmuran bagi rakyatnya? Benarkah paradigma utang yang dikeluarkan oleh institusi Amerika seperti WB, IMF, CIA dan sebagainya membawa kesejahteraan dunia?
Bangsa indonesia harus mampu berkembang dan Mencintai hasil karya Anak Bangsa.
Pemerintah harus lebih mengoptimalkan potensi Anak anak bangsan dan Mampu Berinovasi di Dunia Internasional.











Resume Teori Sosio-Antropologi



Nama                : M Ahmad Sabil
Kelas                : MP 2012 b
MK                  : Sosiologi – Antropologi
Tugas                : Resume

 

TEORI-TEORI YANG MENDASARI PERKEMBANGAN
SOSIOLOGI – ANTROPOLOGI

A.     TEORI EVOLUSI SOSIAL
Teori evolusi sosial mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari teori evolusi biologis Yang di gagas oleh Charles Darwin yang amat terkenal pada abad XIX. Inti teori ini adalah mengumpamakan masyarakat sebagai organism yang tumbuh secara bertahap sesuai dengan fase-fase perkembangannya.
Itulah Sebabnya dalam memahami teori evolusi ada empat prinsip yang harus diperhatikan :
1)      Terus berjuang untuk hidup ( struggle for life )
2)      Mereka yang bertahan hidup artinya mereka yang memiliki kecukupan untuk hidup ( survival of fittest )
3)      Adanya Seleksi Alam ( Natural Selection )
4)      Adanya kemajuan yang cukup berarti ( Progress )
Para ahli mengetengahkan bahwa teori Charles Darwin ini ada kelemahannya, yaitu karena menyamakan sosiologi atau ilmu sosial pada umumnya dengan ilmu biologi.
Beberapa tokoh lain dalam teori eevolusi yang kemudian diadopsi sebagai teori sosial, diantaranya adalah Herbert Spencer (1820-1903), Lewis Henry Morgan (1818-1881). Auguste Comte (1789-1857) dan Freidrich Hegel (1770-1831).
1)      Herbert Spencer (1820-1903)
Menurut Herbert Spencer bahwa segala sesuatu cenderung berkembang dari bentuk yang sederhana  dan tidak terspesialisasi menjadi bentuk yang lebih terspesialisasi dan kompleks. Kecenderungan universal adalah kunci utama dalam melihat semua teka-teki besar di alam semesta ini.



2)      Lewis Henry Morgan (1818-1881)
Munculnya tahap perdaban menandai transisi dari  masyarakat primitive yang disebut societas ke masyarkat sipil yang disebut civitas. Morgan memandang perkembangan alphabet fonetik dan tulisan sebagai karkteristik utama pada tahap ini.
3)      Auguste Comte (1789-1857)
Menurut comte agama di zaman pemikiran empiris merupakan suatu anakronisme atau peninggalan dari suatu zaman yang telah lewat dan semestinya diganti. Kelemahan auguste comte dalam teori tersebut adalah menganggap agama, filsafat dan magic, harus ditinjau kembali, diubah, disesuaikan dan dilengkapi pemikiran bebas dibawah kekangan hokum evolusi.
4)      Freidrich Hegel (1770-1831)
Menyebutkan bahwa sejarah dunia merupakan perwujudan bertahap dari roh yang berdiri sendiri. Kehidupan bersama merupakan penjelmaan konkrit dan manifestasi parah roh itu.
Menurut Stephen K. Sanderson  (1993:15-16) walaupun gagasan para evolusionis ini terasa provokatif, namun gagasan-gagasan tersebut memiliki sejumlah cacat yang serius. Cacat dalam pemikiran evolusionis abad XIX adalah etnosentrisme, yaitu mereka selalu memandang masyarakat sendiri  (peradaban barat) lebih unggul dari masyarakat lainnya.

B.     TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Teori fungsionalisme struktural muncul dan menjadi bagian dari analisis sosiologis sekitar tahun 1940-an dan mencapai kejayaan paada tahun 1950-an.  Namun mulai tahun 1960-an dominasi teori fungsionalisme structural mendapat tantangan keras.
Secara esensial, prinsip-prinsip pokok fungsionalisme struktural ini menurut Sthepen K. Sanderson (1993:9) adalah sebagai berikut  :
1)      Masyarakat merupakan system yang kompleks  yang terdiri dari barbagai bagian dan saling berhubungan.
2)      Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilisasi masyarakat secara keseluruhan.
3)      Semua masyarakat memiliki mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya.
4)      Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadan ekuilbrium atau keseimbangan.
5)      Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat.
Konsep fungsi dari Malinowsky dan Radclife di rinci oleh Robert K. Merton Sebagai berikut :
1)      Sosiologi mengartikan fungsi sebagai akibat atau konsekuensi logis.
2)      Semua praktek atau unsur sosio-budaya belum tentu memiliki suatu fungsi.
3)      Setiap unsur sosio-budaya belum tentu memiliki dampak positif atau baik.
4)      Mempelajari kemungkinan adanya perubahan dapat di gantinya suatu adat atau norma adat.
5)      Memahami konsep Keharusan fungsional atau Prasyarat fungsional.
6)      Membedakan fungsi nyata dan fungsi tersembunyi.

Emile Durkheim sebagai tokoh fungsionalisme struktural selalu membahas dan menguraikan berbagai dampak dari fenomena sosial bagi kehidupan manusia. Penganut teori fungsionalisme struktural sering dituduh mengabaikan variabel konflik dan perubahan sosial dalam teori-teori mereka. Teori mereka menekankan kepada keteraturan (order) dan mengabaikan konflik dan perubahan masyarakat. Konsep utama mereka adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan kesinambungan (aquilbrium).




C.     TEORI KONFLIK

Teori konflik adalah suatu perspektif dalam sosiologi yang melihat masyarakat sebagai suatu system sosial yang terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing komponennya memiliki kepentingan yang berbeda , dan masing-masing berusaha untuk menakhlukkan guna memenuhi hasratnya.
Teori ini memiliki akar yang kuat dalam karya  Karl Max dalam teori sosiologi klasik. Dalam hal ini Stephen K. Sanderson (1993:12) menyebutkan bahwa beberapa strategi konflik Marxian-Modern adalah sebagai berikut :

1)      Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan.
2)      Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan-kekuasan politik merupakan hal penting.
3)      Akibat tipikal pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.
4)      Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh soaial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.
5)      Konflik dan pertentangan sosial didalam diantara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.
6)      Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial.

Sthepen K. Sanderson menjelaskan bahwa strategi konflik Maxian secara esensial lebih merukan srategi materialis ketimbang idealis.

Teori konflik memandang  masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oelh pertentangannya tang terus menerus diantara unsure-unsurnya. Teori konflik menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanya disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasan dari atas golongan yang berkuasa.
D.     TEORI KRITIS

Teori kritis ini adalah bagian sekaligus perkembangan dari teori konflik yang sering disebut sebagai variasi teori Neo-Marxis.
Teori yang mereka kemukakan adalah teori kritis (Critical Theory). Karena karya-karya mereka adalah melakukan kritik dalam berbagai hal dalam kehidupan masyarakat. Jika Karl Marx melakukan terhadap sistem kapitalis menindas, maka kritik sekolah Frankfurt lebih diarahkan pada sistem budaya yang juga menindas masyarakat. Dalam kajian tentang kebudayaan, para ilmuwan sekolah Frankfurt sangat pesimis dengan kebudayaan kontemporer yang disebutnya dengan kebuyaan massa.
 Kebudayaan massa adalah kebudayaan yang merupakan produk industri, seperti budaya yang disebarluaskan oleh jaringan televisi. Kebudayaan massa disebutnya sebagai kebudayaan yang penuh kepalsuan. Efek dari budaya ini adalah upaya menentramkan membius tapi sekaligus menekan orang sehingga individu tidak memiliki kreatifitas melainkan mengikuti begiyu saja apa yang terjadi.


E.     TEORI INTERAKSI SIMBOLIK
Erving Goffman cenderung melihat kehidupan sosial sebagai suatu seri drama atau seri pertunjukkan dimana para aktor memainkan peran-peran tertentu. Penedekatan ini disebut dengan pendekatan dramaturgi. Dalam memahami dramaturginya Goffman, maka ia berbicara tentang beberapa bagian yang terdapat dalam sebuah pertunjukan drama atau teater yaitu :
a.       Front stage (panggung depan) berfungsi untuk mendefinisikan situasi.
b.      Personal front (properti) untuk memberikan kesan yang kuat kepada penonton, sehingga penonton mudah memahami dan mengidentifikasi.
c.       Appearance (penampilan) menunujukkan atribut yang dapat menunjukkan kepada penonnton tentang status sosila yang mereka miliki.
d.      Manner (gaya) menunjukkan model atau gaya yang diamainkan oelh aktor dalam performennya.
e.       Back stage (bagian belakang panggung) sebagai arena yang memunculkan tindakan-tindakan atau perilaku yang non formal yang akan muncul.
Menurut Goffman semua di dunia ini merupakan sebuah sandiwara yang di mainkan beberapa orang yang mampu memainkan peran penting dalam kehidupan.





F.      TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL : Bronislaw K. Malinowski

Beberapa dari teori fungsional struktural sebelumnya yang lebih beraroma sosiologis, dalam teori struktural funsional yang dikembangkan Malinowski dan Radcliffe Brown ini merupakan teori-teori sosial yang berbasis antroplogi. Objek kajiannya lebih banyak pada folklore, dongeng rakyat, dan benda-benda budaya yang dijadikan aktivitas sosial ekonomi masyarakat yang masih sederhana. Menurut Malinowski, dalam masyarakat modern, tata tertib kemasyarakatan dijaga, antara lain oleh suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat memaksa, yaitu hukum. Untuk melaksanakan hukum itu, ia disokong oleh suatu sistem alat kekuasaan seperti kepolisian, pengadilan, dan sebagainya, yang semua ini diorganisir oleh negara. Sedangkan pada masyarakat primitif, alat kekuasaan serupa itu kadang-kadang tidak ada.
Suatu pendirian penting lagi dan pemikiran Malinowski adalah tentang teorinya untuk menganalisa fungsi dari kebudayaan, yang disebutnya teori fungsional tentang kebudayaan atau a functional theory of culture. Inti teori ini adalah bahwa segala aktivitas kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dan sejumlah kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupannya.
Malinowski memandang bahwa keluarga merupakan suatu lembaga yang membentuk personality, dan tempat dimana ikatan emosi seseorang serta emosi sosial yang terwujud. Ia beranggapan bahwa keluarga merupakan lembaga yang mendidik, serta menjaga anak-anak sejak dari lahir hingga dewasa.
Penjelasaan di atas terlihat bahwa usaha Malinowsky untuk menggambarkan konsepsi budaya adalah suatu yang ter integrasi,sebagai suatu sistem yang usur – usurnya bersifat tergantung satu sama lain.

G.    TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL  : Radcliffe Brown
Konsep dan teori Struktural Fungsional yang dikemukakan oleh A.R. Radcliffe Brown  adalah ia menjelaskan bahwa kehidupan sosial adalah merupakan suatu komunitas yang memeberi fungsi kepada strukturnya dan fungsi proses suatu kehidupan sosial ini adalah untuk memelihara kehidupan sosial secara keseluruhan.
 Struktur sosial itu hanya dapat dilihat dalam kenyataan yang konkrit dan dapat diamati secara langsung karena struktur itu terdiri dari:
a.       semua hubungan sosial yang terjadi antara individu dengan individu lainnya,
b.      adanya perbedaan antara individu yang alainnya serta kelas sosial diantara mereka sebab mengikuti  peranan sosial yang diamainkan oleh mereka.